Jumat, 16 November 2012

Cerpen Pengalaman Pribadi



SETITIK HARAPAN DALAM KALBU

OLEH  : RN Mustika S
Tenis meja menjadi salah satu hobiku sejak aku duduk di bangku TK.Aku mengenal olahraga ini saat kakakku,kak Kia namanya bermain tennis meja dan aku tertarik untuk mempelajarinya.Akhirnya,papa memasukkanku di salah satu klub tenis meja.5 tahun lamanya aku berlatih,dan sekarang aku berumur 9 tahun.Sebelumnya aku telah mengikuti beberapa pertandingan.Prestasi tertinggiku saat itu juara 1 tunggal putri tingkat Kabupaten.Suatu hari aku mendapat berita bahwa ada pertandingan tingkat Provinsi di Kediri dan papa mendaftarkanku.Sejak saat itu aku dilatih oleh papa.Setiap hari aku berlatih untuk mempersiapkan pertandingan itu.Bagaimana hasil dari latihanku selama ini? Apakah aku mendapatkan apa yang aku harapkan?

          “Kakak mau kemana?” tanyaku saat melihat kak Kia mau pergi membawa tas dan memakai sepatu olahraga.
            “Mau latihan tennis meja” jawab kak Ki
            “Aku boleh ikut? Boleh lah kak aku pengen liat” Aku memohon agar diperbolehkan ikut.
            “Okelah,tapi adek gak boleh nakal ya!”
            “Siap kakak” ujarku sambil hormat seperti hormat kepada bendera
Sesampainya dirumah…
            “Ma..mama..” Aku berteriak memanggil mama sepulang dari rumah kak Kia dan melihat kak Kia berlatih tenis meja.
            “Ada apa to sayang,kok terika-teriak?” Jawab mama sabar
            “Adek pengen kak Kia ma,tadi adek liat kakak maen tenis meja” Aku merengek-rengek minta diajari tenis meja.
            “Iya sayang,nanti mama bilang sama papa dulu ya” Ujar mama berusaha menuruti permintaanku.
Keesokkan harinya papa mengajakku ke tempat latihan tenis meja.Setelah bertemu dan mengobrol dengan pelatihnya,aku pun akhirnya masuk dan mulai latihan keesokkan harinya.Papa pun membelikanku bed untuk latihan esok.Bersyukur,karena orang tua dan orang-orang disekitarku mendukung apa yang aku gemari sekarang.Papa mengantarkanku setiap ada jadwal latihan tenis meja. Latihanku di jadwal setiap rabu,kamis dan sabtu.
            “Ayo papa berangkat…” ajakku dengan penuh semangat
            “Bentar adek,papa mau salat dulu” jawab papa
            “Yaudah, cepetan ya pa” ujarku
Aku pun menunggu papa selesai salat.Setelah itu kami berangkat menuju tempat latihan.Papa menunggu hingga aku selesai latihan tenis meja.Semakin hari aku semakin suka dengan olahraga ini.Semakin hari juga semangatku bertambah untuk mempelajarinya lebih giat,walaupun tinggi badanku tidak seimbang dengan meja tenisnya.Dengan seiring berjalannya waktu,bisa dibilang aku sudah mahir dalam bermain tenis meja.Beberapa kali aku diikutkan pertandingan tenis meja tingat Kabupaten oleh papa.Hasil yang ku dapatkan pun beragam.Pertama kali aku mengikuti pertandingan,aku menjadi juara 4 horee.. Tapi sayang pesertanya memang cuma 4,yah sama saja tidak mendapatkan juara.Tapi perjuanganku tidak cuma sampai disitu.Aku pun berlatih lebih giat lagi supaya dapat menjadi juara 1 Kabupaten,itu impianku.Perjuanganku selama ini tak sia-sia aku mendapatkan juara 1 Kabupaten dalam rangka OOSN dan aku dikirim ke Provinsi yaitu Surabaya untuk mewakili Kabupaten Ngawi dalam bidang olahraga tenis meja.Bangga,itu pasti.Aku semakin yakin bahwa aku bisa lebih dari ini,dan aku akan lebih mengasah kemampuanku di bidang tenis meja.Suatu hari aku diberi tahu papa,kalau ada kejuaraan tenis meja Se-Jawa Timur di Kediri. Ada 2 kejuaraan,diantaranya usia 9 tahun kebawah dan dewasa.Berhubung umurku sekarang 9 tahun,aku masuk di kejuaraan tenis meja usia 9 tahun kebawah Se-Jawa Timur.
            “Adek..” Papa memanggilku
            “Ada apa pah?” Tanyaku penasaran
            “Papa dapat kabar kalau ada lomba di Kediri” Jawab papa dan kembali bertanya
            “Mau ikut apa tidak?
            “Emm..” Aku berfikir sejenak
            “Ikut aja pah,menambah pengalaman” Ujarku dengan raut wajah yang sedikit tidak yakin akan mengikuti pertandingan tersebut.
            “Deal,kalau iya papa bilang sama Pak Surono supaya di daftarkan” Jawab papa
            “Oke pah” Jawabku meyakinkan
Setiap hari aku berlatih mempersiapkan pertandingan itu dan pelatihku sendiri adalah papa.Papa dengan sabar melatihku hingga aku benar-benar mampu dalam mengatur strategi dalam bermain.Terkadang aku merasa tidak yakin terhadap kemampuanku sendiri.Tapi papalah yang selalu menyemangatiku dan selalu memberi motivasi supaya aku dapat terinspirasi.Aku benar-benar bangga kepada papa,meskipun aku nakal dan bandel namun papa tetap mendampingiku dalam berlatih tenis meja.Aku sayang papa.
Pagi,sekitar pukul 05.00 aku beserta rombongan dari Ngawi berangkat menuju Kediri,kota yang terkenal dengan rasa tahu yang khas dengan menggunakan mobil.Sebelum berangkat aku berpamitan dengan mama dan kak Vian,saudara kandungku.
            “Semoga sukses ya sayang,jangan lupa berdoa” Pesan mama sambil mencium kedua pipiku yang tembem ini.
            “Oke mah” Jawabku sambil mencium tangan mama
            “Kak doakan adek ya..” Ujarku meminta doa ke kak Vian
            “Pasti wol,sportif kalau bermain dan jangan lupa berdoa” Pesan kak Vian.Kakakku sering memanggilku dengan julukan wole.Entah julukan itu dari mana asalnya.
            “Oke kakak,siap” Jawabku sambil mencium tangan kakak
            “Nanti kalau dapat juara kakak traktir deh” Ujar kakak
            “Janji lo ya” Jawabku sambil mengacungkan kelingkingnya
            “Iya janji wole” Kata kakak sambil mengapit jariku dengan jari kelingkingnya.
Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam,sesekali aku mengajak bicara kak Uli,pemain tenis meja juga dari Ngawi.3 jam berlalu,akhirnya kami pun sampai di GOR Sanjaya.Tak lupa kami makan pagi terlebih dahulu sebelum masuk GOR.
Degub jantung semakin kencang saat kakiku melangkah memasukki GOR Sanjaya.Langkahku terasa semakin berat saat melihat pemain dari daerah lain melakukan pemanasan dan itu sangat jauh dari kemampuan yang ku punya.Namun lagi-lagi seseorang menyemangatiku dan memberiku motivasi untuk tetap optimis sosok papa,ya itulah seseorang itu.Aku berharap dapat membawa pulang minimal juara 3.
            “Ratna Nur Mustika Sanusi bermain di meja 15” Terdengar suara yang menandakan aku akan bermain di meja 15.Di babak ini aku harus menyingkirkan 2 pemain untuk masuk ke babak selanjutnya.
            “Berdoa dulu,semangat,optimis kamu pasti bisa dek” Ujar papa menyemangatiku.
            “Iya papah” Kataku sambil meminum air putih yang sudah papa siapkan untukku
Alhamdulillah aku lolos dan masuk ke babak selanjutnya.Di babak selanjutnya pun aku lolos sampai akhirnya aku masuk 8 besar.Sedikit minder,karena semakin aku lolos,maka semakin sulit lawan yang akan ku hadapi.Beruntung aku mempunyai papa yang selalu mengerti yang sedang aku rasakan.
            “Menang atau kalah itu sudah biasa,yang terpenting bermainlah semaksimal mungkin,papa sudah bangga” Ujar papa menenangkanku,karena dari tadi aku tampak tidak tenang
            “Iya pah” Jawabku ragu
Hari ini memang hari keberuntunganku.Lagi-lagi aku lolos dan itu diluar dugaan.Aku masuk 4 besar.”Woww..terima kasih ya Allah” Batinku setelah mengetahui hasilnya.
Di 4 besar ini aku bermain untuk merebutkan tiket menuju 2 besar.Namun keberuntungan tak lagi memihak kepadaku.Aku harus puas berada di urutan ketiga dari berpuluh-puluh pemain Se-Jawa Timur.Juara 3 dan 4 tidak dipertandingkan.Otomatis aku menyandang predikat Juara 3 bersama Tunggal Putri Usia Dini Se-Jawa Timur.Penyerahan hadiah dilaksanakan setelah pertandingan perebutan juara 1 usai.Aku beserta rombongan langsung bergegas pulang setelah penyerahan hadiah usai.Di perjalanan,piala aku pegang erat dan kupeluk hingga sampai rumah.
Sesampainya dirumah…
            “Assalamualaikum..” Ujarku mengucapkan salam
            “Waalaikumsalam, selamat ya sayang” Kata mama sambil memelukku.Tak kalah hebohnya kak Vian yang juga mengucapkan selamat kepadaku.
Akhirnya harapanku untuk menjadi pemain tenis meja dan mendapatkan juara pun tercapai.Namun aku akan terus berlatih,hingga aku dapat meraih juara lebih dari apa yang sudah aku capai.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates